Jakarta, 14 April 2026. Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) bekerja sama dengan Universitas Surabaya (UBAYA) sukses menyelenggarakan webinar Leader’s Talk dengan tema “Literasi Informasi dan AI: Membangun Kritisisme di Tengah Gelombang Disinformasi Digital”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya sivitas akademika, mengenai pentingnya literasi informasi di era perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, Mariyah, S.Sos., M.Hum., menyampaikan bahwa transformasi desain tidak semata-mata berkaitan dengan aspek teknologi atau estetika, melainkan juga mencerminkan perubahan paradigma berpikir, keberanian dalam berinovasi, serta kemampuan untuk menempatkan pengguna sebagai pusat dari kebutuhan desain. Mantan Kepala Perpustakaan Universitas Indonesia tersebut juga menambahkan, pada akhirnya, teknologi yang canggih tanpa disertai pemahaman mendalam terhadap pemustaka atau penggunanya hanya akan menghasilkan ruang yang modern secara visual, namun minim makna dan kebermanfaatan.
Kristina, S.Sos., M.IP., selaku Direktur Perpustakaan Universitas Surabaya, dalam sambutan sekaligus pembukaan resmi webinar Leader’s Talk, menyampaikan bahwa topik literasi informasi dan kecerdasan buatan (AI) merupakan isu yang sangat relevan di tengah derasnya arus informasi saat ini. Ia menegaskan bahwa AI memiliki karakteristik dua sisi, yakni memberikan berbagai manfaat signifikan, sekaligus berpotensi menghasilkan disinformasi. Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dalam pemanfaatannya, meskipun teknologi ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kinerja pustakawan di lingkungan perguruan tinggi.

Para narasumber yang hadir membahas bagaimana AI telah mengubah lanskap informasi digital, termasuk dalam hal produksi dan distribusi konten. Ketua FPPTI Wilayah Bali, Dr. Made Hery Wihardika Griadhi, S.H., M.Si., sebagai pembicara pertama menekankan pentingnya langkah bijak dalam menghadapi disinformasi di era AI, yakni dengan mengecek sumber informasi, melakukan verifikasi dari berbagai referensi terpercaya, memanfaatkan situs pemeriksa fakta, tidak terburu-buru menyebarkan informasi, serta menggunakan logika dan akal sehat dalam menilai kebenarannya.
Narasumber kedua, Dr. Syahril, S.Sos.I., M.Ag. menyatakan bahwa peran pustakawan sebagai agen literasi memiliki signifikansi strategis dalam menghadapi disinformasi yang marak di media sosial, antara lain melalui penguatan regulasi dan kebijakan di tingkat universitas. Sebagai Ketua FPPTI Wilayah Bengkulu sekaligus Kepala Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, ia juga menegaskan bahwa regulasi dan kebijakan perguruan tinggi berperan krusial dalam mengarahkan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu, sehingga penggunaan teknologi di era digital tetap berlangsung secara aman, adil, dan memberikan manfaat optimal bagi civitas akademika.

Kepala Perpustakaan UIN Walisongo, Bahrul Ulumi, S.Ag., S.S., M.Hum., berperan sebagai moderator yang memfasilitasi jalannya diskusi antara dua narasumber dalam webinar tersebut. Kegiatan berlangsung interaktif, ditandai dengan tingginya partisipasi peserta dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang membahas berbagai topik, mulai dari teknik mendeteksi hoaks hingga tantangan penerapan literasi informasi di lingkungan pendidikan.
Melalui kolaborasi antara FPPTI dan UBAYA ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya literasi informasi semakin meningkat, serta mampu mendorong terciptanya masyarakat digital yang kritis, cerdas, dan beretika dalam menghadapi gelombang disinformasi. (Penulis : Iskandar Bajang _Humas FPPTI Pusat)

