Perpustakaan di Indonesia menempati posisi kedua terbanyak di dunia. Banyaknya kuantitas perpustakaan tersebut harus diimbangi dengan kualitas yang memadai juga. Maka, akreditasi sebuah perpustakaan diperlukan untuk bisa memberikan standar yang sama dalam operasional perpustakaan yang tersebar di Indonesia. Akreditasi merupakan bentuk pengakuan formal, bahwa suatu Lembaga atau Institusi telah memiliki kemampuan dalam melakukan kegiatan sesuai dengan standar yang berlaku. Akreditasi Perpustakaan diselenggarakan oleh Lembaga Akreditasi Perpustakaan (LAP-N) Perpustakaan Nasional RI. Membicarakan Akreditasi berarti membicarakan sebuah idealitas dan standar yang telah ditentukan untuk keseluruhan perpustakaan di Indonesia. Berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional RI, per Februari 2021, perpustakaan di Indonesia banyak yang belum sesuai dengan standar yang diharapkan, bahkan baru sekitar 10% perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia yang telah terakreditasi. Hal ini juga ditentukan oleh realitas yang ada, bahwa setiap perpustakaan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain. Sehubungan dengan itu, standar nasional dibutuhkan untuk dapat memberikan pelayanan yang setara di seluruh Indonesia.

Menjawab kondisi tersebut, FPPTI Wilayah Nusa Tengga Barat mengadakan workshop dan focus group discussion dengan tema: “Akreditasi Perpustakaan: Antara Idealitas dan Realitas”. Kegiatan dilaksanakan secara daring menggunakan media  Zoom dan luring bertempat di Universitas Islam Negeri Mataram, pada Kamis, 25 Februari 2021. Acara ini dihadiri sejumlah peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti: Pengurus dari FPPTI Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan forum perpustakaan perguruan tinggi lainnya. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Drs. Lasa Hs, M.Si selaku Ketua FPPTMA; Iskandar, S.Sos., MA, Ketua FPPTMA Wilayah Bali-Nusa Tenggara; dan Muslimin, S.Sos., MM selaku Pembina FPPTI NTB. Selain itu, pada kegiatan ini juga ada paparan keynote speech yang disampaikan oleh Ketua Umum FPPTI yaitu Ibu Mariyah, S.Sos., M.Hum. Pada paparan pembuka yang disampaikan oleh Ketua Umum FPPTI, terdapat 5 (lima) langkah yang dapat dilakukan bagi perpustakaan yang akan melakukan akreditasi, yaitu: pertama adalah mulai melakukan; kedua komunikasi dengan pimipinan universitas untuk mendapatkan dukungan; ketiga berproses memenuhi standar komponen akreditasi yang ada; keempat melakukan evaluasi diri; dan kelima melakukan benchmarking dengan perpustakaan yang telah terakreditasi. Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan oleh pengelola perpustakaan sebelum melakukan akreditasi.

Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi perpustakaan perguruan tinggi untuk melakukan akreditasi. Paparan Ketua Umum FPPTI dan penjelasan dari para narasumber dapat dijadikan referensi dalam mempersiapkan kegiatan akreditasi. Dengan persiapan yang matang diharapkan akan mendapat nilai akreditasi yang memuaskan. (Humas FPPTI, 2021)

#FPPTI #Webinar #Akreditasi #Perpustakaan #PressRelease #NetworkingSharingAndCaring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *