Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) menyelenggarakan Knowledge Sharing Series III yang terdiri dari 7 (tujuh) webinar series yang diadakan secara daring melalui Zoom Meeting. Acara ini diadakan dalam rangka menyemarakkan hari jadi ke-21 FPPTI. Pada seri pertama, yang diadakan pada hari Kamis, 19 Agustus 2021, dengan tema: “Leadership Strategies for Driving Organizational Change and Preparing for the Future”, webinar dibuka oleh Ketua Umum FPPTI, Ibu Mariyah, S.Sos., M.Hum. Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu, Dr. Joko Santoso, M.Hum (Biro Perencanaan dan Keuangan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia), Farli Elnumeri, M.Hum (Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia), dan Amirul Ulum, M.IP (Sekertaris Jendral FPPTI Pusat).

Dalam sambutannya, Ketua Umum FPPTI, Ibu Mariyah, S.Sos., M.Hum. menyampaikan bahwa dalam sebuah organisasi diperlukan pemimpin yang geosentris, yang mampu membuat organisasinya mengikuti perkembangan global dan harus memiliki karakter yang dapat membawa organisasi menjadi lebih baik. Karena, ke depan organisasi akan menghadapi tantangan baik mikro maupun makro yang mana persaingan global dan kemajuan teknologi menjadi tantangan utama dalam mencapai suatu keberhasilan.

Paparan sesi pertama, Dr. Joko Santoso, M.Hum, mengatakan bahwa Perpustakaan Nasional RI dalam menjawab tantangan yang ada, melakukan reformasi birokrasi, yaitu: peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas layanan publik, penyederhanaan struktur organisasi dan birokrasi, serta pemanfaatan teknologi digital yang ada secara maksimal. Menurutnya, organisasi juga harus memiliki tujuan yang terukur. Adanya indikator tujuan dan rencana strategi secara kuantitatif dalam bentuk rasio, prosentase, dan tingkat kemanfaatan dapat memberikan capaian yang jelas dalam mencapai tujuan organisasi. Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa perlu adanya manajemen resiko seperti yang Perpustakaan Nasional RI implementasikan dalam perencanaan dan strategi mereka, yang terdiri dari: identifikasi tujuan dan strategis dengan sharing visi misi, identifikasi kegiatan dan tujuannya dengan adanya penjabaran bentuk kegiatan kepada seluruh anggota, lalu asesmen resiko pada proses bisnis, analisis skala dampak yang memungkinkan terjadi selama proses bisnis berjalan, serta adanya komunikasi resiko, dan terakhir melakukan monitoring pada perbaikan yang akan dilakukan. Adanya manajemen resiko tersebut membuat organisasi lebih siap untuk menghadapi berbagai macam kendala dan tantangan selama proses organisasi berjalan, serta dapat membantu tujuan organisasi tercapai dengan baik.

Bapak Farli Elnumeri, M.Hum, pembicara sesi dua, membagikan pandangannya atas praktik kepustakawanan dalam organisasi. Menurutnya, pemustaka masih kurang dilibatkan dalam pengembangan program perpustakaan padahal pemustaka merupakan tujuan utama dalam program-program perpustakaan, selain itu pustakawan juga banyak pasrah atas keadaannya terutama dalam hal kebijakan yang kurang sensitif atas kinerja perpustakaan. Hal kunci untuk pustakawan bisa memiliki kemampuan advokasi dalam mempengaruhi kebijakan yang ada adalah dengan meningkatkan kemampuan dalam advokasi dan kepemimpinan atau manajerial. Pada hal ini, peran organisasi profesi dan kepustakawanan menjadi penting untuk menggerakkan dan merubah ekosistem, mengadakan pelatihan-pelatihan dalam mengasah kemampuan manajerial, advokasi dan kepemimpinan merupakan hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan pustakawan yang memiliki nilai tawar yang lebih baik. 

Bapak Amirul Ulum, M.IP, pembicara sesi 3, dalam paparannya yang diberi judul “Eksistensi Kepemimpinan dan Keberlangsungan Organisasi”, menyampaikan bahwa dalam berorganisasi perlu melakukan refleksi diri dan menilai diri sendiri apakah memang memiliki komitmen, berani memimpin, sukarelawan dan memiliki waktu untuk berorganisasi. Karena dalam berorganisasi, setiap individu akan menghadapi konflik kepentingan. Namun, konflik ini juga akan menunjukkan dan membuat individu untuk bisa bertindak proporsional dan belajar mengatur prioritas, sehingga resiko yang dihadapi dapat diminimalisir. Organisasi terdiri dari berbagai individu di dalamnya, seorang pemimpin dalam organisasi harus mengenal baik rekannya, baik secara professional dan personal. Menurutnya, komunikasi menjadi kunci utama dalam berorganisasi sehingga pemimpin dapat melihat dengan baik sensitifitas dan kepedulian anggotanya terhadap organisasi dan menjalin komunikasi juga merupakan cara pemimpin dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di organisasi. Pemimpin memiliki tanggung jawab atas organisasinya, oleh karena itu harus memiliki beberapa karakter dan pola pikir tertentu. “Bagi pemimpin masa depan perlu memiliki pemikiran global, mapan dalam teknologi, membangun relasi dan aliansi, divers, menjadi pemimpin yang rela berbagi, dan kemampuan atau keinginan belajar yang tekun seperti belajar dari masa lalu” paparnya, dalam sesi terakhir webinar FPPTI KSS III: seri 1, Kamis (19 Agutsus 2021).

Kegiatan ini diadakan untuk bisa memberikan pandangan dan menjadi refleksi diri individu dalam organisasinya, sehingga diharapkan pustakawan dapat menjadi pemimpin yang baik bagi organisasinya serta juga meningkatkan pemahaman pustakawan pentingnya mengasah kemampuan manajerial dan advokasi dalam kehidupan berorganisasi dan professional. (MRH/KM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *